Apresiasi Prosa Anak
Menurut Nisya (2018:52-53) Sastra adalah karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya. Sesuai dengan pengertian sastra “Sastra adalah karya tulis yang bila dibandingkan dengan tulisan lain memiliki ciri-ciri keunggulan, seperti; keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.”
Sastra terdiri dari prosa, puisi, dan drama. Prosa dalam sastra merupakan karya naratif yang bersifat rekaan, kejadian dalam prosa tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Tokoh maupun latar bersifat imajiner atau hasil imajinasi pengarang. Jenis kedua yaitu puisi, puisi adalah bentuk karya sastra yang indah dan penuh makna. Sedangkan drama adalah seni cerita melalui percakapan dan akting tokoh. Ketiga jenis sastra tersebut terintegrasi pada keempat keterampilan berbahasa, yaitu; menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini bertujuan agar anak mampu mengapresiasi karya sastra serta memahami nilai-nilai kehidupan yang digambarkan melalui karakter atau watak tokoh dalam cerita.
Definisi Apresiasi Prosa
Menurut Yuwono (2007:27) dalam Nazurti (2017:39) Prosa adalah karya sastra yang bersifat uraian naratif. Sedangkan menurut Sutawijaya dan Rumini (1997:1) dalam Nazurty (2017:39-40) prosa merupakan karya sastra dalam bentuk cerita, seperti novel dan cerpen. Perilaku menikmati, memahami, dan menyikapi secara positif dan wajar pada karya sastra disebut apresiasi sastra. Jadi, perilaku menikmati, memahami, memaknai, dan menafsirkan karya sastra dalam bentuk cerita disebut apresiasi prosa. Apresiasi prosa berkaitan dengan membaca cerita, baik itu novel, cerpen, maupun cerita rakyat dengan usaha optimal untuk memahami, memaknai, dan menginterpretasi serta menikmati isi cerita. Menurut Aminuddin (2001:35) dalam Nazurti (2017:40) dalam penerapannya apresiasi memerlukan aktivitas, kreativitas, dan motivasi dalam menunjukkan kemampuan atau potensi seseorang karena apresiasi merupakan suatu proses.
Definisi Apresiasi Prosa Anak
Cerita anak merupakan sastra anak. Batasan tentang sastra anak antara lain dikemukakan oleh Sudjiman (1984) dalam Sultoni (2019:1205), yang menyatakan bahwa cerita anak adalah kisah nyata ataupun rekaan yang berbentuk prosa maupun puisi yang tujuannya memberikan informasi dan menghibur kepada pembacanya, yaitu anak-anak. Sedangkan menurut Sarumpaet (1988) dalam Sultoni (2019:1205) menyatakan bahwa bacaan anak-anak adalah bacaan yang ditulis oleh orang dewasa untuk anak-anak dan pembacaannya dibimbing oleh orang dewasa.
Menurut Nazurti (2017:40) Hakikat sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan kisah nyata. Menurut Norton (1988) dalam Nazurti (2017:40) mengatakan bahwa sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan, dan pengalaman anak-anak yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak.
Apresiasi prosa anak berarti kegiatan anak untuk memahami, memaknai, dan menginterpretasi serta menikmati isi cerita dalam cerita anak.
Bentuk Prosa Anak
Menurut Lavamane (2020) prosa dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Bentuk prosa baru, yaitu (a) roman, (b) novel, (c) cerpen, (d) riwayat, (e) kritik, (f) referensi, (g) hikayat. Sedangkan bentuk prosa lama, yaitu; (a) hikayat, (b) sejarah, (c) kisah, dan (d) dongeng.
Prosa yang banyak digemari anak-anak biasanya cerpen dan dongeng fabel yang biasanya berisi cerita binatang. Cerpen adalah sebuah bentuk prosa yang mengisahkan sebagian kecil kehidupan tokoh-tokohnya hanya yang terpenting dan paling menarik. Dongeng adalah sebuah bentuk prosa yang menggambarkan sebuah cerita fiksi.
Contoh Prosa Anak
Melukis Cinta
Oleh Clara Ng
Hari Sudah malam. Lulu telah bergelung nyaman di ranjangnya. Mama menyelimuti lalu mencium Lulu.
“Mama,” panggil Lulu.
“Apakah cinta itu?”
“Kamu mau melihat cinta? tanya mama.
“Mau!” Lulu mengangguk bersemangat.
“Yuk, kita melukis cinta!” lanjut mama sambil tersenyum.
Mama mengambil beberapa krayon dan kertas lebar, lalu mulai menggambar.
“Cinta adalah,” katanya.
“Matahari pagi yang berwarna keemasan di langit membangunkan kamu. Bersama angin semilir yang sepoi-sepoi, cinta tersenyum menyapa fajar.”
Mama mengganti kertas. “Cinta adalah,” sambil mulai menggambar, “titik-titik hujan yang jatuh dari langit. Bunga bermekaran dan kupu-kupu menari-nari di sekelilingnya. Pelangi melengkung indah dan kamu ber kecipak-kecipuk di tanah basah.”
Mama mengganti kertas lagi. “Cinta adalah,” katanya, “belajar dan bermain di sekolah. Menyapa guru dan sahabat sehati. Menjelajah, bertanya, dan ingin tahu segala. Berharap satu hari tak akan pernah berhenti.”
Mama memandang lulu. “Kamu ingin melukis cinta, sayang?” tanya mama.
“Mau, ma!” Lulu mengambil krayon dan secarik kertas.
“Cinta adalah,” kata Lulu sambil mulai menggambar, “tidak memilih teman waktu bermain bersama. Hitam-putih, besar-kecil, gemuk-kurus, tinggi-rendah. Semua teman unik dan istimewa.”
Mama membelai rambut Lulu.
“Bagus, anak pintar!” pujinya.
“Sekarang giliran mama,” mama mengambil kertas lagi.
“Cinta adalah,” katanya, “kue tart coklat besar di tengah meja. Donat, kembang gula, dan brownies yang disantap bersama sahabat dan keluarga. Berbagi senyum, tawa, juga air mata.”
“Cinta adalah,” kata Lulu. “Bulan yang bersinar di langit malam bersama sejuta bintang. Menemani mereka yang akan terbang ke alam mimpi. karena bulan yang dilihat di sana sama dengan bulan yang di lihat di sini.”
Mama memuji, “bagus sekali, anak pintar!”
Lulu mengambil kertas. “Aku masih punya satu lagi, mama!” katanya.
“Apa itu?” tanya mama.
Lulu mulai menggambar.
“Cinta adalah,” katanya. “Saat aku gembira dan sedih. Mama memeluk dan menciumku. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sehingga aku dapat tidur dengan aman sampai pagi tiba.”
Selamat tidur, Lulu!
Kesimpulan
Menurut Nisya (2018:52-53) Sastra adalah karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya. Sastra terdiri dari prosa, puisi, dan drama. Prosa dalam sastra merupakan karya naratif yang bersifat rekaan, kejadian dalam prosa tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Menurut Yuwono (2007:27) dalam Nazurti (2017:39) Prosa adalah karya sastra yang bersifat uraian naratif. Cerita anak merupakan sastra anak. Menurut Nazurti (2017:40) hakikat sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Menurut Norton (1988) dalam Nazurti (2017:40) mengatakan bahwa sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan, dan pengalaman anak-anak yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak. Menurut Lavamane (2020) prosa dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru.
Apresiasi prosa berkaitan dengan membaca cerita, baik itu novel, cerpen, maupun cerita rakyat dengan usaha optimal untuk memahami, memaknai, dan menginterpretasi serta menikmati isi cerita.
Apresiasi prosa anak berarti kegiatan anak untuk memahami, memaknai, dan menginterpretasi serta menikmati isi cerita dalam cerita anak.
Daftar Pustaka
Lavamane, F. (2020, Juli 29). Karya Sastra (Puisi, Prosa, Drama). https://doi.org/10.31219/osf.io/bp6eh
Nazurti. (2017). Studi Kasus Pembelajaran Apresiasi Prosa Di Kelas V SD Negeri 15/IV Jelutung Kota Jambi. Jurnal Pendidikan Tematik Dikdas Universitas Jambi, 2(1), 39-40. https://online-journal.unja.ac.id/JPTD/article/view/3573
Nisya, R. K. (2018). Prosa Fiksi Realistik Dalam Menumbuhkan Karakter Siswa. Jurnal Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia, 13(2), 52-53. https://journal.uniku.ac.id/index.php/FON/article/view/1542
Sarumpaet, R. K. (2010). Pedoman penelitian sastra anak. Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional.
Sultoni, M. (2019, Januari 12). Pemanfaatan Cerita Anak Sebagai alternatif Bahan Pembelajaran Apresiasi Sastra Di Kelas III Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 1205. https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/view/2751
Komentar
Posting Komentar